IBN Pringsewu Gelar Workshop AI, Pakar UPSI Malaysia Tekankan Etika dan Integritas Akademik
PRINGSEWU,iNewsPringsewu.id – Institut Bakti Nusantara (IBN) menggelar workshop kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dengan menghadirkan Satria Abadi, M.T.I., Ph.D., dosen IBN sekaligus anggota tim peneliti Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), Malaysia, sebagai narasumber utama.
Kegiatan ini membahas pemanfaatan teknologi AI secara produktif, bertanggung jawab, dan beretika dalam mendukung transformasi pendidikan tinggi. Workshop tersebut diikuti dosen serta mahasiswa semester 5 dan 7 Institut Bakti Nusantara.
Kegiatan secara resmi dibuka oleh Wakil Rektor I IBN, Didi Susianto, M.Kom., dengan moderator Wakil Rektor II IBN, Dr. Miswan Gumanti, MBA., MM.
Dalam pemaparannya, Satria Abadi menjelaskan bahwa perkembangan teknologi AI, khususnya Generative AI, membuka peluang besar bagi dunia pendidikan tinggi. Teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk membantu pencarian informasi, analisis data, pengembangan perangkat lunak, penyusunan bahan pembelajaran, hingga mendukung penelitian ilmiah.
Namun, menurutnya, pemanfaatan AI juga harus diimbangi pemahaman terhadap risiko dan tanggung jawab pengguna. Sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan meliputi plagiarisme, keamanan dan privasi data, bias algoritma, ketidakakuratan informasi, serta ketergantungan terhadap teknologi.
“Artificial Intelligence harus digunakan sebagai teknologi pendukung kecerdasan manusia, bukan sebagai pengganti kemampuan berpikir,” kata Satria.
Ia menegaskan, pengguna AI di lingkungan akademik harus mampu memverifikasi informasi yang dihasilkan, menjaga orisinalitas karya ilmiah, serta bertanggung jawab atas setiap pekerjaan yang melibatkan bantuan kecerdasan buatan.
Satria juga menekankan pentingnya penerapan prinsip Responsible AI atau penggunaan AI yang bertanggung jawab, dengan mengedepankan transparansi, akuntabilitas, keamanan, keadilan, dan penghormatan terhadap hak kekayaan intelektual.
Menurutnya, mahasiswa perlu memahami batasan penggunaan AI dalam penyusunan makalah, laporan praktikum, tugas akhir, skripsi, maupun publikasi ilmiah. AI dapat digunakan sebagai alat bantu pembelajaran dan pengembangan gagasan, tetapi tidak boleh dijadikan sarana manipulasi data, pembuatan referensi fiktif, atau pelanggaran integritas akademik.
IBN Dorong Mahasiswa Adaptif terhadap Perkembangan AI
Wakil Rektor I IBN, Didi Susianto, M.Kom., menyampaikan bahwa kehadiran narasumber yang memiliki pengalaman penelitian internasional diharapkan dapat memperluas wawasan sivitas akademika mengenai perkembangan AI dan penerapannya dalam pendidikan, penelitian, serta dunia kerja.
Ia menilai perguruan tinggi perlu mempersiapkan dosen dan mahasiswa agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital, terutama AI yang semakin banyak digunakan dalam berbagai bidang kehidupan.
Menurut Didi, teknologi kecerdasan buatan telah membawa perubahan signifikan terhadap proses pembelajaran, penelitian, pengolahan data, hingga pengambilan keputusan. Karena itu, pemanfaatannya perlu dilakukan secara optimal tanpa mengabaikan kejujuran dan integritas akademik.
“Perkembangan Artificial Intelligence memberikan peluang besar bagi dunia pendidikan tinggi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, penelitian, dan inovasi. Namun, pemanfaatannya harus disertai pemahaman mengenai etika, kejujuran akademik, dan tanggung jawab pengguna,” ujar Didi.
Ia berharap mahasiswa Institut Bakti Nusantara tidak hanya menjadi pengguna teknologi AI, tetapi juga mampu mengembangkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Sementara itu, moderator kegiatan, Dr. Miswan Gumanti, MBA., MM., menilai perkembangan kecerdasan buatan merupakan fenomena global yang perlu dipahami secara komprehensif oleh dosen dan mahasiswa.
Menurutnya, AI bukan sekadar teknologi untuk mempercepat penyelesaian pekerjaan, melainkan instrumen yang dapat meningkatkan produktivitas, kreativitas, dan kualitas pengambilan keputusan apabila digunakan secara tepat.
“Mahasiswa harus memahami bahwa kecerdasan buatan merupakan alat bantu untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan produktivitas, bukan untuk menggantikan proses berpikir kritis,” jelas Miswan.
Ia menambahkan, penggunaan AI dalam penyusunan tugas, karya ilmiah, dan penelitian tetap harus memperhatikan keaslian karya, validitas informasi, serta etika akademik.
Melalui workshop ini, IBN mendorong sivitas akademika untuk semakin memahami potensi sekaligus risiko kecerdasan buatan. Penguasaan teknologi yang disertai kemampuan berpikir kritis dan tanggung jawab etis diharapkan menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam menghadapi tantangan pendidikan dan dunia kerja di era digital.
Editor: Indra Siregar