Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Fauzi Tegas! Kasus Dugaan Pemukulan Siswa SD di Pringsewu Harus Jadi Evaluasi Dunia Pendidikan
Advertisement . Scroll to see content

AI Makin Canggih, Pakar Ingatkan: Jangan Biarkan Kecerdasan Buatan Menggantikan Nalar Manusia

Jum'at, 23 Oktober 2026 | 09:56 WIB
  • author Indra Siregar
AI Makin Canggih, Pakar Ingatkan: Jangan Biarkan Kecerdasan Buatan Menggantikan Nalar Manusia
Narasumber pakar AI Satria Abadi, M.T.I., Ph.D., bersama pimpinan, dosen, dan mahasiswa Institut Bakti Nusantara dalam workshop pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) secara produktif,(Foto: istimewa)

PRINGSEWU,iNewsPringsewu.id – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membuka peluang besar dalam dunia pendidikan, penelitian, dan dunia kerja. Namun, pemanfaatannya harus disertai kemampuan berpikir kritis, verifikasi informasi, serta tanggung jawab etis agar tidak menimbulkan persoalan baru.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam workshop kecerdasan buatan yang menghadirkan Satria Abadi, M.T.I., Ph.D., dosen Institut Bakti Nusantara sekaligus anggota tim peneliti Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), Malaysia, Rabu (21/10/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Satria menjelaskan bahwa teknologi AI, khususnya Generative AI, dapat membantu berbagai aktivitas, mulai dari pencarian informasi, analisis data, pengembangan perangkat lunak, penyusunan bahan pembelajaran, hingga mendukung penelitian ilmiah.

Menurutnya, AI berpotensi meningkatkan produktivitas dan mempercepat penyelesaian pekerjaan apabila digunakan secara tepat. Meski demikian, pengguna tidak boleh menerima seluruh hasil yang dihasilkan sistem kecerdasan buatan tanpa melakukan pemeriksaan.

“Artificial Intelligence harus digunakan sebagai teknologi pendukung kecerdasan manusia, bukan sebagai pengganti kemampuan berpikir,” tegas Satria.

AI Bukan Pengganti Kemampuan Berpikir Kritis

Satria mengingatkan, penggunaan AI juga memiliki sejumlah risiko yang perlu dipahami masyarakat, khususnya mahasiswa dan tenaga pendidik.

Risiko tersebut meliputi informasi yang tidak akurat, bias algoritma, pelanggaran privasi, keamanan data, plagiarisme, hingga ketergantungan terhadap teknologi.

Dalam lingkungan akademik, penggunaan AI perlu dilakukan secara bijak. Mahasiswa harus memastikan bahwa informasi yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan, referensi yang digunakan benar-benar tersedia, serta karya ilmiah tetap mencerminkan pemikiran dan kontribusi pribadi.

AI juga tidak boleh digunakan untuk memanipulasi data, membuat referensi fiktif, atau menyamarkan karya orang lain sebagai hasil pekerjaan sendiri.

Karena itu, pemahaman mengenai Responsible AI atau penggunaan kecerdasan buatan secara bertanggung jawab menjadi semakin penting. Prinsip ini mencakup transparansi, akuntabilitas, keamanan, keadilan, dan penghormatan terhadap hak kekayaan intelektual.

Tantangan Pendidikan di Era Kecerdasan Buatan

Pemanfaatan AI di perguruan tinggi menuntut perubahan cara belajar dan mengajar. Dosen dan mahasiswa tidak cukup hanya menguasai teknologi, tetapi juga harus mampu menilai kualitas informasi, memahami keterbatasan sistem, serta mempertahankan integritas dalam proses akademik.

Wakil Rektor I Institut Bakti Nusantara, Didi Susianto, M.Kom., mengatakan perkembangan AI memberikan peluang besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, penelitian, dan inovasi.

Namun, ia menegaskan pemanfaatan teknologi tersebut harus tetap mengedepankan etika, kejujuran akademik, dan tanggung jawab pengguna.

Sementara itu, Wakil Rektor II IBN, Dr. Miswan Gumanti, MBA., MM., yang memoderatori kegiatan tersebut, menilai AI dapat meningkatkan produktivitas, kreativitas, dan kualitas pengambilan keputusan apabila digunakan secara tepat.

Menurutnya, mahasiswa perlu menjadikan AI sebagai alat bantu untuk memperkuat kemampuan berpikir, bukan sebagai jalan pintas yang menghilangkan proses analisis dan pemahaman.

Pada akhirnya, kecerdasan buatan bukan hanya tentang kemampuan teknologi menghasilkan jawaban dengan cepat, tetapi juga tentang bagaimana manusia menggunakannya secara cerdas dan bertanggung jawab.

Penguasaan AI yang disertai literasi digital, pemikiran kritis, dan etika diharapkan menjadi bekal penting bagi generasi muda dalam menghadapi perubahan di era digital.

Editor: Indra Siregar

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut