Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Jalan Pujorahayu Pesawaran Dikeluhkan, DPRD Dorong Perbaikan Jalur Alternatif Bandara
Advertisement . Scroll to see content

Petani Pringsewu Curhat Soal Pupuk dan Sumur Bor, Komisi II DPRD Turun Langsung

Kamis, 08 Oktober 2026 | 14:28 WIB
  • author Indra Siregar
Petani Pringsewu Curhat Soal Pupuk dan Sumur Bor, Komisi II DPRD Turun Langsung
Ketua Komisi II DPRD Pringsewu Mastuah bersama anggota DPRD dan jajaran Dinas Pertanian berdialog langsung dengan petani di tengah persawahan Pringsewu Utara, Kamis (8/10/2026) (Foto: Indra Siregar)

PRINGSEWU,iNewsPringsewu.id – Komisi II DPRD Kabupaten Pringsewu turun langsung ke lapangan untuk menyerap aspirasi kelompok tani di tengah area persawahan Pringsewu Utara, Kecamatan Pringsewu, Kabupaten Pringsewu, Kamis siang (8/10/2026).

Kegiatan tersebut dipimpin Ketua Komisi II DPRD Pringsewu Mastuah bersama sejumlah anggota, yakni Sudiyono, Edi Yanto, Meifi Anindya Larasati dan Rini Anggraini. Pertemuan berlangsung langsung bersama para petani guna mengetahui berbagai persoalan yang dihadapi dalam kegiatan pertanian.

Anggota Komisi II DPRD Pringsewu, Sudiyono, mengatakan pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya menyentuh langsung kondisi masyarakat, khususnya petani, sehingga berbagai kendala di lapangan dapat diketahui dan ditindaklanjuti sesuai kewenangan.

Dalam pertemuan itu, salah seorang petani, Rasiman, menyampaikan persoalan terkait akses pupuk. Ia mengaku tidak dapat memperoleh pupuk karena belum tergabung dalam kelompok tani di Pekon Podo sari, Kecamatan Pringsewu.

Menurutnya, terdapat sekitar 20 petani yang belum masuk dalam kelompok tani sehingga membutuhkan solusi agar tetap mendapatkan akses terhadap kebutuhan pertanian.

Sementara itu, Bambang menyampaikan aspirasi terkait kebutuhan sumur bor untuk menunjang pengairan sawah. Ia berharap pembangunan sumur bor dilakukan berdasarkan kajian dan mekanisme yang tepat agar sumber air dapat dimanfaatkan secara optimal.

“Jangan sampai ada sumur bor, tetapi baru digunakan beberapa jam airnya sudah habis,” ujarnya.

Bambang menambahkan, jika petani harus menyedot air dari sungai, biaya operasional pertanian akan semakin besar. Selain membutuhkan anggaran untuk pengairan, petani juga harus mengeluarkan biaya membeli obat-obatan dan kebutuhan produksi lainnya.

Sekretaris Dinas Pertanian Pringsewu, Sri Ermalia, S.P., M.Si., menjelaskan bahwa petani yang belum tergabung dalam kelompok nantinya akan diarahkan untuk bergabung atau membentuk kelompok tani sesuai ketentuan.

Sementara itu, Kabid Prasarana Pertanian Bayu menegaskan, bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) yang bersumber dari APBN pada prinsipnya disalurkan melalui kelompok tani sesuai mekanisme yang berlaku.

Sudiyono kembali mengingatkan para petani agar memanfaatkan keberadaan kelompok tani. Keanggotaan kelompok dinilai penting karena dapat menjadi wadah koordinasi sekaligus membuka akses terhadap berbagai program dan bantuan pemerintah di sektor pertanian.

Editor: Indra Siregar

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut