get app
inews
Aa Text
Read Next : Soal Infrastruktur hingga Pelayanan, Keluhan Warga Fajarmulya Mengemuka di Ngopi Serasi

Satu-satunya di Dunia? Pasar Berlumpur Jadi Kebanggaan Sekaligus Luka Bagi Warga Pringsewu

Sabtu, 07 Februari 2026 | 13:59 WIB
header img
Langkah pedagang berpacu dengan lumpur, demi dapur tetap mengepul (Foto:iNews Pringsewu.id/Dokn Pasar sarinongko)

PRINGSEWU,iNewsPringsewu.idPasar Sarinongko atau yang lebih dikenal sebagai Pasar Terminal Pringsewu, hingga kini masih identik dengan lumpur, genangan, dan kondisi yang jauh dari kata layak. Namun ironisnya, di tempat yang becek inilah justru terjadi salah satu perputaran uang terbesar di Kabupaten Pringsewu ,Sabtu(07/02/2026).

Setiap hari, ribuan transaksi berlangsung. Pedagang kecil, pengepul, hingga pembeli dari berbagai wilayah menggantungkan hidupnya di pasar ini. Tak sedikit pula orang-orang sukses yang lahir dari “lumpur” Pasar Sarinongko—mereka yang memulai usaha dari lapak sederhana, bertahan di tengah kondisi pasar yang memprihatinkan.

“Lumpur di Pasar Pringsewu inilah yang menelurkan orang-orang sukses,” ujar salah satu pedagang. Bahkan, kondisi pasar yang becek ini justru menjadi ciri khas yang mudah dikenang. “Kalau ditanya pasar berlumpur di mana? Orang pasti jawab: Pringsewu,” katanya sambil tertawa.

Meski menjadi pusat ekonomi rakyat, kondisi Pasar Sarinongko hingga kini tak kunjung mendapat pembenahan serius. Lumpur saat hujan, jalanan licin, sanitasi buruk, dan penataan yang semrawut menjadi pemandangan sehari-hari. Kondisi ini memunculkan kritik publik agar persoalan pasar terus disuarakan dan diviralkan.

“Posting saja terus, biar viral. Supaya pejabat tahu bahwa Pasar Pringsewu itu kumuh dan tidak layak jadi pasar di tengah kota,” ungkap warga.

Namun persoalan Pasar Sarinongko tak sesederhana itu. Diketahui, pasar tersebut merupakan milik pribadi, sehingga tidak sepenuhnya berada di bawah kewenangan langsung pemerintah daerah. Kondisi ini kerap menjadi alasan klasik mengapa penataan pasar terkesan jalan di tempat.

Meski demikian, masyarakat berharap ada solusi konkret. Sebab, pasar ini bukan sekadar soal kepemilikan lahan, melainkan urat nadi ekonomi rakyat Pringsewu. Lumpur mungkin telah melahirkan banyak kisah sukses, tetapi bukan berarti harus terus dibiarkan menjadi simbol ketertinggalan.

Editor : Indra Siregar

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut